“Penghargaan ini dirancang bukan sekadar seremonial, melainkan sebagai upaya bersama dalam melahirkan dan merawat contoh keteladanan di tengah bangsa,” tandas Ketua Umum DPP PIKI, Maruarar Sirait.
Jakarta,moluccastimes.id-Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPP PIKI) sukses menggelar ajang penghargaan bergengsi PIKI Award 2026, Minggu 25/10/2026 malam.
Acara yang dihelat di Grand Studio Metro TV, Jakarta Barat ini didedikasikan untuk memberikan apresiasi tertinggi kepada individu dan yayasan yang telah memberikan kontribusi nyata serta berdampak langsung bagi kemaslahatan masyarakat luas.
“Penghargaan ini dirancang bukan sekadar seremonial, melainkan sebagai upaya bersama dalam melahirkan dan merawat contoh keteladanan di tengah bangsa,” tandas Ketua Umum DPP PIKI, Maruarar Sirait.
Ia mengingatkan generasi muda bahwa proses pembentukan seorang tokoh sejati menuntut konsistensi dan integritas yang tinggi.
“PIKI Award kami buat bersama untuk membuat contoh keteladanan. (Menjadi tokoh) butuh perjuangan panjang, butuh pengorbanan. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi tokoh,” ujar Maruarar di hadapan para hadirin.
Ajang penghargaan ini secara khusus menyoroti keberadaan para pejuang di berbagai sektor krusial, mulai dari transparansi publik, edukasi, hingga kelestarian alam.
Kehadiran para penerima penghargaan ini diharapkan mampu memicu lahirnya pemuda-pemuda baru yang berkomitmen serupa dalam menghadapi tantangan zaman.
“Kita sangat bersyukur ya, ada tokoh-tokoh pejuang antikorupsi, pendidikan, lingkungan yang semoga lahir ke depan tokoh-tokoh seperti itu,” tambah pria yang juga menjabat sebagai Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman tersebut.
Komitmen Hadir di Daerah dan Keterbukaan Organisasi
Lebih lanjut, Maruarar menekankan bahwa PIKI berkomitmen penuh untuk tidak hanya berorientasi pada wacana dan gagasan intelektual di tingkat pusat.
Organisasi ini bertekad untuk turun langsung bergotong-royong menjawab kebutuhan riil masyarakat di berbagai daerah, seperti di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).
Komitmen ini menjadi wujud konkret agar pemikiran akademis senantiasa berjalan beriringan dengan empati sosial.
Di akhir penjelasannya, Maruarar menegaskan sifat inklusif dari PIKI. Ia mengundang seluruh elemen intelektual dan lintas profesi untuk bergabung memperkuat gerakan kebangsaan ini demi menebar manfaat yang lebih besar.
“PIKI adalah organisasi yang terbuka. Kami mengajak intelektual Kristen, para dosen, aktivis, apapun pekerjaannya, para pengusaha, pendeta untuk bersama-sama membangun PIKI dengan kepenuhan kebersamaan dengan prinsip saling menghargai,” pungkasnya.(MT-01)
