Refleksi HUT Ke-81 RI :  Dari Tanah Raja-Raja, Inilah Suara Hati Latupati Kota Ambon

by -3 Views
Ketua Majelis Latupati Kota Ambon, Reza Valdo Maspaitella

Dalam refleksinya, Ketua Majelis Latupati menyatakan bahwa perjuangan Maluku adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah pembentukan bangsa, mulai dari era perlawanan Pattimura hingga Martha Christina Tiahahu.

Ambon,moluccastimes.id-Ketua Majelis Latupati Kota Ambon, Reza Valdo Maspaitella menyampaikan pidato refleksi mendalam bertajuk “Tujuh Amanat Kemerdekaan dari Tanah Raja-Raja” dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin 17/08/2026.

Pidato tersebut menegaskan kesetiaan Maluku terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sekaligus memberikan catatan kritis mengenai pemerataan keadilan sosial setelah 81 tahun merdeka.

Dalam refleksinya, Ketua Majelis Latupati menyatakan bahwa perjuangan Maluku adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah pembentukan bangsa, mulai dari era perlawanan Pattimura hingga Martha Christina Tiahahu.

Namun, ia mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh masyarakat di daerah kepulauan.

Pihaknya menyoroti masih adanya nelayan yang hidup dalam keterbatasan, minimnya lapangan kerja bagi pemuda lokal, tingginya biaya logistik, serta perjuangan masyarakat hukum adat dalam menuntut pengakuan hak-hak tradisional mereka.

Menyikapi hal tersebut, lembaga adat Kota Ambon ini menitipkan 7 amanat krusial kepada negara :

1. Pembangunan Indonesia dari Seluruh Penjuru, dimana ukuran kemajuan negara harus diukur dari kehadiran negara di pulau-pulau kecil dan daerah terjauh, bukan hanya kemegahan di pusat kota atau Jakarta.
2. Keadilan Sumber Daya (Resource Justice), Investasi dan pembangunan yang masuk ke daerah harus memberikan kesejahteraan nyata, lapangan kerja, serta transfer teknologi, bukan sekadar mengeruk kekayaan alam lalu meninggalkan kemiskinan.
3. Pembangunan Manusia Maluku, mengutamakan investasi pada sektor pendidikan, sekolah vokasi, penguatan universitas, hingga membawa teknologi dan Artificial Intelligence (AI) ke Indonesia Timur untuk mencetak generasi inovatif.
4. Pengakuan dan Penghormatan Negeri Adat, menempatkan negeri adat sebagai komunitas hidup yang memiliki hukum dan peradaban sendiri, serta melibatkan mereka secara aktif dalam perencanaan masa depan wilayahnya, bukan sekadar menjadikannya ornamen kebudayaan.
5. Menjadikan Laut sebagai Halaman Depan, mengoptimalkan potensi maritim melalui perikanan, energi, ekonomi biru, dan konektivitas laut sebagai sumber kemakmuran, di mana Maluku harus berada di garis depan kebangkitan maritim tersebut.
6. Merawat Persaudaraan sebagai Benteng Negara, menggunakan semangat lokal Maluku seperti Pela dan Gandong sebagai teladan nasional untuk menjaga persatuan dan tidak mengorbankan persaudaraan demi kepentingan politik atau kelompok sesaat.
7. Mewariskan Indonesia yang Lebih Adil untuk Generasi 2045, menitipkan komitmen kepada generasi saat ini agar mewariskan pemerintahan yang bersih, hukum yang adil, alam yang lestari, serta kesetaraan kesempatan bagi setiap anak bangsa menjelang satu abad Indonesia.

Di akhir pidatonya, Ketua Majelis Latupati menyampaikan seruan khusus kepada generasi muda Maluku agar menjadi “Pattimura Modern” dengan cara menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan kewirausahaan.

“Mari melangkah sejauh mungkin ke dunia luar guna menuntut ilmu, namun jangan pernah lupa untuk kembali dan membangun tanah kelahiran mereka. Sebab memperjuangkan kemajuan Maluku dan mencintai Indonesia adalah dua hal yang saling menguatkan dan tidak dapat dipisahkan,” lugas ayah dua anak ini.(MT-01)