Dalam doa, sambungnya, bukan hanya ada ungkapan syukur, tetapi juga penyembahan kepada Tuhan yang harus menjadi gaya hidup orang percaya.
Ambon,moluccastimes.id-Mazmur 22:20-25, menjadi dasar refleksi Persidangan Jemaat ke-XLVI GPM Rumahtiga tahun 2026 dalam ibadah minggu yang berlangsung di Gereja Cahaya Kemuliaan, Minggu, 22/02/2026.
“Mengawali agenda strategis Sidang Jemaat ini, maka syukur dan penyembahan kepada Allah merupakan fondasi utama dalam setiap pengambilan keputusan pelayanan jemaat ke depan,” demikian Pdt. D. Wattimanela, M.Si dalam reflkesinya.
Dikatakan, persidangan gereja bukan sekadar forum organisasi, melainkan peristiwa iman yang harus bertolak dari relasi yang hidup dengan Tuhan.
“Aku akan memasyurkan namaMu kepada saudara-saudaraku dan memuji muji Engkau ditengah-tengah jemaah (ayat 23) membuktikan bahwa saat berkumpul bersama terutama dalam peristiwa persidangan ini fokus kita adalah memasyurkan, memuji Allah secara koorporat, karena Allah tidak akan menyembunyikan wajahNya (ayat 25),” tandasnya.

Pendeta pelayan Homili ini mengungkapkan hal lain yang harus dilakukan dalam helatan persidangan ini adalah ungkapan syukur.
“Syukur itu tentang sesuatu yang telah kita terima. Kita bersyukur atas semua yang Tuhan berikan, dan itu kita sampaikan kepada Allah dalam doa. Apa yang kita bawa hari ini adalah bukti berkat Tuhan dalam hidup kita,” ujar Wattimanela.
Dalam doa, sambungnya, bukan hanya ada ungkapan syukur, tetapi juga penyembahan kepada Tuhan yang harus menjadi gaya hidup orang percaya.
“Artinya bukan sekadar respons atas keadaan baik saja, melainkan sikap hati yang tetap percaya dan bersorak kepada Tuhan meski situasi berubah,” tandasnya.
Menurutnya, penyembah sejati adalah mereka yang tetap berdoa dan berjalan di jalan Tuhan, bahkan ketika doa belum terjawab atau harapan belum terwujud.
“Memiliki Tuhan adalah segalanya. Di batas kemampuan manusia, di situlah kita menemukan kuasa dan penyertaan Tuhan,” tegasnya.
Pesan tersebut dinilai relevan dengan pelaksanaan Persidangan Jemaat ke-XLVI, yang menjadi ruang evaluasi pelayanan sekaligus perumusan program kerja jemaat ke depan.
“Fondasi spiritual yang kuat diharapkan menjadi dasar konsolidasi gereja, keluarga, dan seluruh perangkat pelayanan dalam menjawab tantangan zaman,” lugas pria rendah hati itu. (MT-01)

i
s






