Untuk investasi emas, BSI menghadirkan beberapa produk seperti gadai emas, cicil emas, dan tabungan emas. Produk ini dinilai menjadi pilihan aman karena emas terbukti mampu menjadi pelindung nilai aset (hedging) dari inflasi.
Ambon,moluccastimes.id-Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatatkan pencapaian signifikan dengan total aset yang kini telah menembus angka Rp 400 triliun, sekaligus menjadi satu-satunya bank syariah yang masuk jajaran 10 besar bank nasional.
Capaian ini disampaikan langsung oleh Pemateri BSI, Zulfahmi Farma, dalam kegiatan Edukasi dan Training of Trainers Media Massa Penggerak Duta Literasi Keuangan Indonesia yang digelar di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku, Kamis 15/01/2026.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Penguatan Kapasitas Wartawan sebagai Duta Literasi di Sektor Jasa Keuangan”, sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan sistem keuangan syariah.
Dikatakan selain mencatat pertumbuhan aset yang pesat, BSI juga terus memperluas jaringan global.
“Pada 28 Januari 2022, BSI resmi membuka cabang internasional di Dubai, Uni Emirat Arab, yang menjadi tonggak ekspansi bank syariah Indonesia di kawasan Timur Tengah. BSI saat ini memiliki jaringan lebih dari 100 ribu outlet layanan di seluruh Indonesia, dan menjadi satu-satunya bank syariah yang masuk 10 besar bank nasional,” rincinya.
Dari sisi kontribusi sosial, BSI juga menunjukkan komitmen kuat terhadap ekonomi umat. Sepanjang tahun 2024, BSI menyalurkan zakat perusahaan sebesar Rp 169 miliar, serta zakat pegawai sebesar Rp 27 miliar, dengan total penyaluran zakat mencapai Rp 196 miliar.
“Ini bukan hanya soal bisnis, tetapi bagaimana bank syariah memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” kata Zulfahmi.
Dalam paparannya, Zulfahmi juga memperkenalkan produk investasi unggulan BSI, yang saat ini difokuskan pada dua sektor utama, yakni investasi emas dan tabungan haji.
Untuk investasi emas, BSI menghadirkan beberapa produk seperti gadai emas, cicil emas, dan tabungan emas. Produk ini dinilai menjadi pilihan aman karena emas terbukti mampu menjadi pelindung nilai aset (hedging) dari inflasi.
“Pada tahun 1990, dengan uang Rp 4 juta orang bisa membeli sepeda motor. Namun di 2025, nilai itu hanya cukup untuk membeli sepeda. Sebaliknya, emas justru terus mengalami kenaikan nilai,” jelasnya.
Ia mencontohkan, harga emas yang pada 1990 hanya sekitar Rp 20 ribu per gram, kini telah menyentuh angka Rp 2,6 juta per gram, bahkan diproyeksikan bisa mencapai Rp 3 juta per gram pada pertengahan 2026.
BSI juga menyoroti keterkaitan antara investasi emas dan biaya ibadah haji.
“Saat ini, biaya pelunasan haji di Kota Ambon berkisar Rp 38 juta, dengan total dana termasuk setoran awal mencapai sekitar Rp 60 juta. Kenaikan harga emas cenderung sejalan dengan kenaikan biaya haji. Karena itu, cicil emas di BSI bisa menjadi solusi perencanaan ibadah jangka panjang,” papar Zulfahmi.
Ia menyebutkan, banyak nasabah yang memanfaatkan emas sebagai jaminan atau bahkan menjual emas hasil cicilan untuk menutupi seluruh biaya pelunasan haji tanpa harus mencari dana tambahan.
Dirinya berharap para jurnalis dapat berperan aktif sebagai agen literasi keuangan syariah, sekaligus menjembatani informasi yang benar dan edukatif kepada masyarakat serta strategis dalam meningkatkan pemahaman publik tentang produk keuangan yang aman, halal, dan berkelanjutan. (MT-01)
