Inflasi Ambon Tembus 3,78 Persen, Pemkot Evaluasi OPD & MoU Daerah Penyangga

by -9 Views

“Selanjutnya meninjau ulang kelangsungan Memorandum of Understanding (MoU) dengan wilayah penyangga demi menjaga stabilitas harga pangan. Langkah ini diharapkan mampu mengendalikan fluktuasi harga yang membebani daya beli masyarakat,” ucapnya.

Ambon,moluccastimes.id-Pemerintah Kota Ambon merespons kenaikan angka inflasi menjadi 3,78% dari sebelumnya 2,84% dengan mengevaluasi total kinerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan kerja sama daerah penyangga.

Hal tersebut tertuang dalam Rapat evaluasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang dipimpin Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisutta, S.Sos di Balai Kota, Rabu, 15/07/2026.

“Rapat evaluasi ini juga untuk memastikan langkah strategis dan pelaporan ke pusat berjalan optimal,” ungkap Wawali.

Diakui Srikandi Kota Ambon ini, Pemerintah Kota Ambon saat ini berfokus untuk menagih progres program unggulan setiap dinas teknis.

“Selanjutnya meninjau ulang kelangsungan Memorandum of Understanding (MoU) dengan wilayah penyangga demi menjaga stabilitas harga pangan. Langkah ini diharapkan mampu mengendalikan fluktuasi harga yang membebani daya beli masyarakat,” ucapnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan hasil rapat evaluasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Maluku bersama Bank Indonesia per Juli 2026, tingkat inflasi Kota Ambon tercatat merangkak naik ke angka 3,78 persen (year-on-year).

Angka ini meningkat dari periode sebelumnya yang berada di posisi 2,84 persen, sekaligus berada di atas sasaran target inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.

Faktor utama pemicu lonjakan inflasi di Kota Ambon dipicu oleh sektor hortikultura, perikanan, serta transportasi, yang kemudian diredam melalui intervensi pangan murah, kerja sama antar-daerah, dan penguatan infrastruktur logistik.

Komoditas Penyumbang Utama Inflasi yaitu pada sektor antara lain :

£. Hortikultura & Pangan: Bawang merah, cabai rawit, dan cabai merah menjadi penyumbang andil terbesar. Lonjakan harga terjadi karena berakhirnya masa panen lokal serta tingginya curah hujan yang mengganggu jalur distribusi pasokan.
£. Komoditas Perikanan: Kelompok ikan laut seperti ikan layang, tongkol, dan cakalang mengalami kenaikan harga signifikan. Cuaca buruk dan gelombang tinggi membatasi ruang gerak nelayan untuk melaut.
£. Sektor Transportasi & Energi: Kenaikan tarif angkutan udara akibat penyesuaian biaya tambahan (surcharge) avtur, serta efek domino penyesuaian harga BBM non-subsidi meningkatkan biaya logistik

Program Unggulan OPD & Intervensi TPID yang dilakukan antara lain :

£. Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) merupakan Ppogram kolaborasi bersama Bank Indonesia Maluku untuk mengamankan rantai pasok pangan sepanjang tahun 2026.
£. Pasar Murah & Gerakan Pangan Murah yaitu penyaluran paket sembako bersubsidi (beras, minyak goreng, gula) secara berkala di berbagai kecamatan untuk memotong rantai distribusi.
£. Optimalisasi Rantai Pasok Daerah Penyangga melalui evaluasi komitmen kerja sama (MoU) dengan wilayah hinterland seperti Maluku Tengah demi menjaga stabilitas cadangan stok bahan pokok.(MT-01)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *