“Kami menyebutnya Nenas Bogor karena rasanya yang manis, namun ada bedanya. Kalau Nenas Bogor itu ukurannya normal, tetapi kalau Nenas Rutong ini bisa mencapai enam kilo gram, tidak bisa dipegang dengan satu tangan,” ungkap Kepala Soa Maspaitella, Jimmy Maspaitella ketika ditemui moluccastimes.id, sekaligus diajak meninjau kebun Nenasnya, Kamis 26/02/2026.
Ambon,moluccastimes.id-Selain memiliki kearifan lokal Ekowisata Hutan Sagu, Negeri Rutong, Kecamatan Leitimur Selatan juga dikenal dengan tanaman buah Nenas (Ananas Comosus) yang termasuk dalam kelompok tanaman buah hortikultura.

Tanaman dengan ciri berbatang pendek, berdaun panjang dan berduri, serta tumbuh merumpun ini diklasifikasikan ke dalam famili Bromeliaceae dan sering disebut sebagai buah majemuk yang merupakan tanaman herba tahunan bersifat monokotil.
Didusun (kebun) yang terletak diatas perbukitan Negeri Rutong terhampar tanaman Nenas yang memiliki keunikan tersendiri. Selain rasanya yang sangat manis lebih dari gula, juga memiliki bentuk ukuran yang sangat besar (giant).
“Kami menyebutnya Nenas Bogor karena rasanya yang manis, namun ada bedanya. Kalau Nenas Bogor itu ukurannya normal, tetapi kalau Nenas Rutong ini bisa mencapai enam kilo gram, 1tidak bisa dipegang dengan satu tangan,” ungkap Kepala Soa Maspaitella, Jimmy Maspaitella ketika ditemui moluccastimes.id, sekaligus diajak meninjau kebun Nenasnya, Kamis 26/02/2026.
Menurut pria paruh baya itu, pengaruh rasa manis Nenas Rutong karena memiliki kelebihan asam tanah atau Ph diatas 7, walaupun dalam proses tanam sama dengan Nenas lainnya.
“Kalau asam tanah dibawah Ph 7, maka tanaman tidak akan subur karena rendah nutrisi, tinggi racun, sehingga perlu menaikkan Ph dengan kalsit, memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan ketersediaan unsur hara agar tanaman tumbuh optimal. Dan puji Tuhan tanah di Negeri Rutong ini sangat subur sehingga Nenas yang dihasilkan sangat manis dan besar,” jelas pria berkumis itu.

Dikatakan, budidaya Nenas dilakukan dengan dua cara : menanam anakan dan menanam mahkota Nenas.
“Kalau menanam anakan itu biasanya memakan waktu satu tahun barulah berbuah, sedangkan melalui Mahkota atau biasa kita sebut Konde itu memakan waktu dua tahun baru bisa berbuah. Untuk tahun ini, kita telah mulai panen sejak Desember kemarin hingga nanti bulan Maret. Karena tingkat kematangannya berbeda-beda,” ulasnya.
Diakuinya, tidak semua warga Rutong memiliki dusun (kebun) Nenas. “Namun, bisa satu keluarga memiliki .kurang lebih satu hektar lahan untuk ditanami tanaman termasuk nenas,” timpalnya.
Wisata Nenas Rutong
Sejalan dengan hal tersebut, masyarakat Negeri Rutong menyepakati keinginan Kepala Pemerintahan Negeri Rutong atau Raja untuk menjadikan Rutong sebagai kawasan Wisata Nenas.

“Konsep dan ide cemerlang bapa Raja luar biasa karena selain Ekowisata Hutan Sagu, kita memiliki hasil Nenas yang akan dijadikan juga sebagai Wisata Holtikultura, dimana saat panen nanti pengunjung bisa melakukan panen sendiri sambil menikmati keindahan dan kesejukan kebun yang berada di perbukitan,” lugasnya.
Disisi lain, Raja Negeri Rutong, Reza Valdo Maspaitella tidak menampik hal tersebut. Dirinya menyatakan apa yang dilakukan adalah semata-mata demi kelangsungan hidup masyarakat yang dipimpinnya.
“Yang kita masih butuhkan adalah akses jalan menuju kebun Nenas yang berjarak kurang lebih 2.500 meter itu, karena baru sekitar 2000 meter yang diaspal. Memang masih kurang sekitar 500 meter lagi untuk sampai pada hamparan kebun Nenasnya. Kami berharap kedepan akses ini sudah dilengkapi sehingga warga tidak sulit membawa hasil panen mengingat akses jalan yang menanjak ke perbukitan tadi,” terang pria dengan panggilan Upu Latu Lopurusa Uritalai itu.

Pria penuh ide cemerlang ini juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada Pemerintah Kota Ambon terkhusus Wali Kota Ambon, Drs. Bodewin Wattimena, M.Si atas dukungan dan bantuan merealisasikan jalan menuju kebun Nenas.
“Saat kampanye menjadi Wali Kota, beliau berjanji untuk membantu akses jalan menuju kebun Nenas dan Puji Tuhan saat ini, walaupun belum cukup rampung tetapi warga dimudahkan dengan kendaraan untuk menjemput hasil panen Nenasnya. Ini bentuk kolaborasi Pemerintah daerah dengan Pemerintah Negeri untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” demikian Maspaitella berapresiasi.
Dirinya sangat berharap Negeri Rutong kedepan bukan saja Ekowisata Hutan Sagu yang mendunia tetapi juga dengan Ekowisata Nenas Rutong.(MT-01)

i
s











