Pattinasarany & Matruty Jadi Narsum PKM FPIK Unpatti Bagi Kelompok Nelayan Negeri Ureng

by -39 Views

“Dengan memanfaatkan potensi perikanan yang tersedia, masyarakat diharapkan mampu menghasilkan berbagai produk olahan yang bernilai ekonomi, mendukung program peningkatan gizi masyarakat, serta berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting melalui konsumsi pangan berbasis ikan,” pungkas Matruty.

Ureng,moluccastimes.id-Dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat lewat Kelompok Nelayan Tiga Nona melalui Diversifikasi dan Pengolahan Produk Perikanan untuk Meningkatkan Nilai Ekonomi di Negeri Ureng, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah inisiasi tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Pattimura (Unpatti), mendapat pembekalan dari dua narasumber, yakni Dr. Agapery Y. Pattinasarany, S.Pi., M.App.Sc. dan Ir. Theodora E. A. A. Matrutty, M.Si disela kegiatan Sabtu, 20/06/2026.

Tema Transformasi Perilaku Usaha Nelayan yang dibawakan Dr. Agapery Y. Pattinasarany, S.Pi., M.App.Sc. mengungkapkan pentingnya penerapan prinsip kebersihan, konsistensi mutu, dan keberlanjutan usaha dalam pengembangan produk olahan perikanan.

“Keberhasilan suatu produk tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir, tetapi juga oleh proses produksi yang dilakukan secara konsisten, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, hingga pengemasan,” tandas Pattinasarany.

Oleh karena itu, lanjutnya, peserta diajak untuk membangun pola pikir kewirausahaan yang berorientasi pada kualitas produk dan keberlanjutan usaha.

“Produk yang baik bukan hanya enak sekali, tetapi harus enak berkali-kali. Konsistensi rasa dan mutu menjadi kunci agar usaha dapat terus berkembang dan berkelanjutan,” timpalnya.

Melalui materi tersebut, peserta diharapkan mampu menerapkan prinsip-prinsip produksi yang baik sehingga dapat menghasilkan produk olahan perikanan yang berkualitas, memiliki daya saing, serta memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat nelayan.

Selanjutnya nara sumber Ir. Theodora E. A. A. Matrutty, M.Si. menjelaskan pentingnya pengolahan hasil perikanan sebagai strategi meningkatkan nilai tambah produk sekaligus menjaga ketersediaan pangan masyarakat pada masa paceklik atau musim timur.

Menurutnya, Desa Ureng memiliki potensi perikanan yang besar sehingga diperlukan inovasi pengolahan agar hasil tangkapan tidak hanya dijual dalam bentuk segar, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memiliki daya simpan lebih lama dan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan pembuatan sambal berbahan baku ikan asap serta biskuit berbahan tepung ikan teri.

“Penggunaan ikan asap sebagai bahan baku sambal memberikan keunggulan tersendiri karena memiliki kadar air yang lebih rendah serta cita rasa khas yang dapat meningkatkan kualitas produk. Sementara itu, biskuit berbahan ikan teri dinilai memiliki kandungan protein yang tinggi dan dapat dikonsumsi oleh berbagai kelompok usia, mulai dari balita hingga lanjut usia,” jelasnya.

Wanita kreatif ini berharap pelatihan yang diberikan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan memanfaatkan potensi perikanan yang tersedia, masyarakat diharapkan mampu menghasilkan berbagai produk olahan yang bernilai ekonomi, mendukung program peningkatan gizi masyarakat, serta berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting melalui konsumsi pangan berbasis ikan,” pungkas Matruty.(MT-01)