“Mazmur Daud ini perlu diapresiasi karena menjawab tantangan, memberi tuntunan serta arahan sebagai jemaat dalam setiap rutinitas tiap hari ditengah situasi dan kondisi kompleksitas saat ini,” ucap pelayan firman, Pdt. Dr. Elizabeth Christina Marantika-Mailoa, M.Th.
Ambon,moluccastimes.id-“Jadilah Bagiku Gunung Batu Keselamatan” (Mazmur 31: 1-9) menjadi refleksi Sidang ke-57 Klasis GPM Pulau Ambon tahun 2026 bertempat di gedung Gereja Karn Hattin Jemaat GPM Seilale, Minggu 15/02/2026.
“Mazmur Daud ini perlu diapresiasi karena menjawab tantangan, memberi tuntunan serta arahan sebagai jemaat dalam setiap rutinitas tiap hari ditengah situasi dan kondisi kompleksitas saat ini,” ucap pelayan firman, Pdt. Dr. Elizabeth Christina Marantika-Mailoa, M.Th.

Pendeta wanita yang kerap disapa Lies ini menjelaskan beberapa hal yang perlu dicontohi dari pemazmur.
Pemazmur menyapa Allah sebagai gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan, artinya dia mengenal Allah dengan sangat baik, Allah yang menuntun dan membebaskan dari jaring yang menjebak yang dilatarbelakangi kehidupan umat di Yehuda yang dikepung kekaisaran Babel (ayat 3-4).
“Sama seperti kita dalam kehidupan yang selalu diperhadapkan dengan situasi yang menjebak, karenanya kita harus menjadikan Allah sebagai Gunung Batu, yang mendorong kita setiap saat pasrahkan kehidupan padaNya,” lugas Marantika.
Sikap keyakinan pemazmur membentuk serta memperkuat imannya kepada Allah. (ayat 2-3a)
Kehidupan kita juga harus mencontoh pemazmur dengan pengalaman spiritual yang dibangun dan dihidupi dalam konteks masing-masing.
Kualitas kehidupan spiritualitas akan memampukan kita melakukan hal yang baik dan benar di tempat dimana kita bekerja dan berkarya sehingga kita menjadi saksi tentang kasih dan kemurahan Allah baik dalam keluarga, jemaat, lingkungan dan masyarakat.

Allah membebaskan pemazmur dari jaring yang menjebak. (ayat 5-7)
Bagi kita jaring menjebak dapat berupa masalah, tantangan yang membuat kita sulit hidup sebagai ciptaan Allah yang bebas dan bermartabat. Spiritualitas yang kita bangun sebagai umat yang percaya kepada Allah adalah spiritualitas yang membebaskan dari kesalahan dan perbuatan dosa.
“Dalam hal ini, gereja bertangungjawab membentuk model pembinaan bagaimana membangun spiritualitas yang berkualitas sehingga umat terdorong menghasilkan pemikiran, kebijakan, melalui karya yang dihasilkan bagi kesejahteraan banyak orang. Apa yang menjadi tantangan bagi 25 jemaat Klasis Pulau Ambon, harus dirumuskan secara strategis. Persidaangan ini harus memikirkan gagasan, model bentuk pelayanan pembinaan yang menjawab tantangan ini cara gereja bebaskan umat dari jaring yang menjebak,” harapnya..
Pemazmur begitu mempercayai Allah yang menolong dan membebaskan dari jaring yang menjebak (ayat 8-9).

Harus ada perencanan pelayaan dan pembinaan umat sepanjang 2026, dengan pertolongan Allah, jemaat mengalami kemurahan Allah secara nyata sehingga ada kemenangan, sukacita karena keluar jari masalah, serta situasi yang menjebak
Wanita smart itu berharap dalam minggu sengsara pertama ini dengan kekuatan spiritualitas yang membebaskan, mengikuti keberanian Yesus mengambil langkah untuk tersakiti bagi diriNya sendiri demi keselamatan dunia.
“Mari ambil langkah berani bebaskan kita dan sesama dari jaring yang menjebak kehidupan. Dan semoga momen persidangan ini juga menghasilkan gagasan kebijakan serta program pelayanan dan pembinaan umat yang efektif dan strategis dalam upaya menjawab tantangan probelamatika umat dalam menjalani kehidupan ini,” tutupnya. (MT-01)

i
s




09
-6



