“Jangan menunggu harga melonjak baru kita bergerak. Kita harus mengetahui potensi kenaikan sejak awal agar intervensi bisa dilakukan tepat sasaran,” ujar Wawali di hadapan para distributor dan stakeholder.
Ambon,moluccastimes.id-Pemerintah Kota Ambon resmi mengintegrasikan teknologi digital dalam mendeteksi dan mengendalikan gejolak harga pangan.
Langkah ini ditandai dengan pengenalan aplikasi SI KENDALI Ambon (Sinergitas Kendali Inflasi dan Neraca Logistik Ambon) dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Manise Hotel, Jumat 30/10/2026.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota Ambon Ely Toisuta, S.Sos menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin lagi menggunakan cara-cara konvensional atau sekadar reaktif saat harga pangan sudah telanjur meroket.
Kehadiran aplikasi ini dirancang khusus untuk memetakan rantai pasok secara real-time dan mendeteksi potensi kelangkaan barang lebih awal.
“Jangan menunggu harga melonjak baru kita bergerak. Kita harus mengetahui potensi kenaikan sejak awal agar intervensi bisa dilakukan tepat sasaran,” ujar Wawali di hadapan para distributor dan stakeholder.
Aplikasi SI KENDALI Ambon nantinya akan menyatukan data-data krusial, mulai dari pergerakan harga, ketersediaan stok, hingga jalur distribusi.
“Sistem ini mengintegrasikan data dari berbagai pihak strategis seperti para distributor, Bulog, BPS, Bank Indonesia, hingga Pelindo,” tambahnya.
Langkah digitalisasi ini diambil di tengah tekanan inflasi tahunan (year-on-year) Kota Ambon yang menyentuh angka 4,76 persen pada September 2026.
Salah satu pemicu utamanya adalah lonjakan ekstrem harga cabai merah dan cabai keriting yang menembus Rp160 ribu per kilogram dari harga normal Rp40 ribu.
Untuk memastikan akurasi data pada aplikasi baru ini, Pemkot Ambon meminta komitmen penuh dari para distributor untuk aktif memasok data logistik mereka. Sebagai kompensasi, pemerintah menjamin keamanan dan kerahasiaan data internal para pelaku usaha tersebut.
Selain mengandalkan aplikasi sistem peringatan dini ini, Pemkot Ambon tetap mengombinasikannya dengan aksi lapangan melalui Strategi 4K (Keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif).
Langkah ini mencakup perluasan Gerakan Pangan Murah ke wilayah padat penduduk serta pasokan instan dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan demi menjaga stabilitas menyambut Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.(MT-01)
