“Amerika dan Belanda yang kerap memesan. Yah semoga kedepan makin banyak negara yang tertarik dengan kain tenun ikat Mawar ini,” harapnya.
Jakarta,moluccastimes.id-Maluku memiliki keragaman seni budaya yang mampu disejajarkan dengan daerah lainya di Indonesia. Salah satu seni yang berawal dari tradisi turun temurun dalam klan keluarga adalah kain tenun ikat Mawar yang berasal dari Tanimbar, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT).
Dan tidak dinyana, kain tenun ikat Mawar ini masuk dalam salah satu produk UMKM unggulan Provinsi Maluku dalam event Karya Kreatif Indonesia (KKI) Bank Indonesia (BI) 2026 yang diselenggarakan di Hall B, Jakarta International Convention Center (JICC) / Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta yang berlangsung dari tanggal 20-23 Agustus 2026.
Jadi Binaan Bank Indonesia Provinsi Maluku
Tenun ikat Mawar merupakan UMKM yang digeluti oleh keluarga Kurmasela yang didirikan tahun 2019.
“Tenun ikat Mawar ini adalah usaha yang dijalankan oleh keluarga kami, dengan tujuan melestarikan warisan budaya leluhur dengan motif khas Maluku. Nama mawar sendiri diambil dari gabungan fam Malihu dan Watumlawar (Mawar),” ucap owner tenun ikat Mawar, Devianty Luci Kormasela disela KKI, Sabtu 22/08/2026.
Wanita manis ini menjelaskan, keikutsertaan kain tenun ikat Mawar dalam KKI 2026 tidak terlepas dari binaan Bank Indonesia Provinsi Maluku.
“UMKM kami ini menjadi binaan Bank Indonesia lima tahun belakangan ini, Banyak pelatihan yang kami dapatkan, selain itu kami juga belajar membuka jaringan serta akses pasar sehingga usaha kain tenun ikat Mawar ini dapat berkembang seperti saat ini,” tandas Luci.
Keikutsertaan Tenun Ikat Mawar dalam Karya Kreatif Indonesia BI di Jakarta pun menjadi momentum penting untuk memperkenalkan produk lokal Maluku ke pasar yang lebih luas.
Dirinya berharap kain tenun Mawar tetap hidup dan terus mendengungkan identitasnya dalam arus industri modern serta menjadi cerita panjang budaya Maluku untuk diwariskan ke generasi berikutnya.
Disisi lain Luci mengapresiasi Bank Indonesia Provinsi Maluku.
“Puji Tuhan lewat binaan Bank Indonesi Provinsi Maluku, kain tenun ikat Mawar ini dapat dikenal di luar negeri. Terima kasih Bank Indonesia Provinsi Maluku atas binaannya, suport serta dukungannya selama ini,” tandasnya.
Kekuatan Kain Tenun Ikat Mawar, Proses Masih Tradisional
“Dalam proses pembuatan kain tenun ikat Mawar ini kami masih mempertahankan teknik tradisional. Untuk mendapatkan warna benangnya, harus direbus dengan bahan alami. Setelah menghasilkan warna, benang dicuci untuk mengantisipasi terjadi kelunturan nanti pada kainnya, baru kemudian dijemur hingga kering, dan benang itu dibuka satu semi satu untuk kemudian dipintal dengan Papindahan atau alat tenun tradisional, tanpa mesin,” jelasnya.
Diceritakan, dahulu para orangtua memproses kain diawali dengan mengolah kapas menjadi benang kemudian dianyam menjadi kain.
“Namun, sekarang ini bahan baku kapas kita ganti dengan benang katun. Satu lembar kain yang dihasilkan membutuhkan tiga ikat benang katun dengan harga satuan berkisar Rp.18.000, (delapan belas ribu rupiah).
Menurutnya, kain tenun ikat Mawar saat ini memiliki nilai ekonomis tinggi, hal ini disebabkan karena keterbatasan proses produksi.
“Itulah ciri kami karena msih menggunakan keterampilan tradisional sehingga hasilnya juga berbeda dengan produk yang menggunakan mesin. Dalam satu bulan, tenun Ikat Mawar yang dihasilkan 10 hingga 20 lembar tenun. Produksi kain lebih banyak dibandingkan dengan produk syal,” akunya.
Untuk saat ini beberapa negara telah menggunakan kain tenun ikat Mawar yaitu Amerika Serikat serta Belanda.
Sementara yang dijual dalam KKI 2026 kain tenun Mawar dibandrol Rp. 750.000 hingga 1.000.000.
“Amerika dan Belanda yang kerap memesan. Yah semoga kedepan makin banyak negara yang tertarik dengan kain tenun ikat Mawar ini,” harapnya.
Wanita energik ini mengakui di tengah perkembangan zaman, keberadaan tenun tradisional menghadapi tantangan tersendiri. Regenerasi pengrajin, ketersediaan bahan baku, proses produksi yang panjang serta penetrasi produk tekstil modern menjadi persoalan yang harus dihadapi.
Walaupun demikian kegigihannya tetap mempertahankan tradisi dalam memproses kain tenun ikat Mawar.
Kain Tenun Ikat Mawar, Posisi Penting Turun Temurun
“Itu adalah nilai budaya yang kuat, karena tenun telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tanimbar secara turun-temurun serta memiliki posisi penting sebagai salah satu syarat dalam prosesi pernikahan,” lugas wanita cantik ini.
Kain tenun ikat Mawar tidak saja bernilai ekonomis, setiap lembar memiliki cerita dan identitas dan ciri khas daerah yang dituangkan melalui motif tenunan.
“Saat ini beragam motif yang telah dihasilkan oleh tangan kreatif dari Tanimbar. Salah satu yang dikenal adalah Lelemuku (bunga anggrek) menjadi identitas tenunan khas Tanimbar. Selain itu, ada juga motif tahuri, ukulele, gitar, Siwalima, Siwatalang, hingga motif yang mengambil inspirasi dari karakteristik wilayah Maluku Barat Daya,” jelas Luci.
Kain tenun ikat Mawar ini dapat diperoleh di rumah produksi Jl.Pendidikan No.06 Lorong-2 RT002 RW001 Desa Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon. Kota Ambon.(MT-01)
