“Namun, kami butuh advokasi kebijakan dari IWAPI Provinsi untuk mendesak Pemprov membangun infrastruktur penunjang yang adil untuk wilayah kami yang termasuk 3T,” tegas ibu dua putri ini.
Ambon,moluccastimes.id-Produk kerajinan, olahan perikanan, dan hasil pertanian melimpah dari Maluku Barat Daya (MBD) terancam layu sebelum berkembang akibat kendala klasik wilayah kepulauan mahalnya biaya transportasi.
Fakta miris ini terungkap dalam Rakerda II DPD IWAPI Provinsi Maluku di Ambon, Kamis 06/08/2026.
Ketua DPC IWAPI MBD, Hendryeta Kuara, mengungkapkan bahwa biaya pengiriman barang dari wilayahnya menuju pusat provinsi seringkali membengkak hingga tiga sampai empat kali lipat dibanding pengiriman di wilayah daratan.
Kondisi ini membuat margin keuntungan pengusaha lokal menipis, bahkan terpaksa menaikkan harga jual di luar batas wajar pasar.
“Kualitas produk kami sebenarnya sangat baik dan siap bersaing. Namun tanpa kepastian jadwal kapal dan biaya angkut yang rasional, pelaku usaha di kepulauan dipastikan kalah sebelum bertanding,” ucap Kuara
Dampaknya terasa langsung di lapangan. Banyak perajin dan nelayan lokal memilih membatasi produksi karena pasar virtual yang dijangkau lewat digitalisasi tetap terganjal oleh realitas pengiriman fisik yang mahal dan tidak menentu.
Menurutnya, Perempuan pengusaha di MBD siap menjadi motor penggerak ekonomi daerah dan membuka lapangan kerja baru bagi rumah tangga di pesisir.
“Namun, kami butuh advokasi kebijakan dari IWAPI Provinsi untuk mendesak Pemprov membangun infrastruktur penunjang yang adil untuk wilayah kami yang termasuk 3T,” tegas ibu dua putri ini.(MT-01)






