“Mengingat proses pemulihan fisik dan psikis pascabencana ini diperkirakan memakan waktu lama, kami menegaskan komitmen untuk terus mengawal dan mendampingi para korban hingga situasi pulih sepenuhnya,” tandasnya.
Taniwel,moluccastimes.id-Merespons cepat musibah kebakaran hebat yang melanda wilayah Taniwel pada Jumat 18 September 2026 malam, Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM) Taniwel langsung bergerak mengambil langkah taktis.

Bencana tersebut dilaporkan telah menghanguskan sedikitnya 28 unit bangunan, termasuk rumah warga, satu unit pondok, serta satu rumah pastori.
Sejak Sabtu dini hari, Klasis GPM Taniwel menggerakkan aksi kemanusiaan massal. Gerakan solidaritas yang awalnya dimulai dari 9 jemaat kini telah meluas hingga 21 jemaat.
Warga jemaat bahu-membahu mengumpulkan bantuan berupa sembako dan pakaian layak pakai, yang langsung didistribusikan secara bertahap ke posko-posko pengungsian sejak keesokan paginya.

“Untuk memastikan penanganan dampak bencana berjalan optimal dan tepat sasaran dalam jangka panjang, Klasis GPM Taniwel resmi membentuk tiga tim khusus,” ucap Ketua Klasis GPM Taniwel, Pdt. J. Makatita, M.Th, di kantor Klasis Taniwel, Jumat 25/09/2026.
3 tim khusus tersebut yaitu :
1. Tim Bina Spiritual: Menjadi tim yang bergerak paling awal di lapangan. Para Pendeta rutin menggelar pelayanan doa dan ibadah setiap pagi dan malam di posko. Tim ini juga bersinergi dengan tim trauma healing dari Sinode GPM untuk mendampingi anak-anak yang masih ketakutan, serta bekerja sama dengan Tim BABASA GPM guna memberikan layanan pengobatan gratis bagi warga yang sakit.
2. Tim Penerima & Distribusi Bantuan: Bertugas mengelola dan memilah logistik masuk. Penyaluran dilakukan secara ketat: paket sembako dan bahan makanan diberikan kepada seluruh pengungsi, sementara peralatan dapur serta bahan bangunan dikhususkan bagi warga yang rumahnya habis terbakar.
3. Tim Infodokom: Bertugas melakukan pendataan berkala di lapangan, memantau jumlah pengungsi, serta memetakan kebutuhan pangan di setiap titik posko demi menjamin akurasi distribusi bantuan agar tidak ada warga yang terlewat.

“Dalam pelaksanaannya, manajemen penanganan dibagi ke dalam dua titik utama. Kantor Klasis yang dikelola oleh para Pendeta dan Angkatan Muda GPM (AMGPM) difungsikan sebagai pusat koordinasi, sedangkan posko pengungsian di lapangan dikelola bersama oleh pihak Kecamatan dan Pemerintah Desa,” terang Makatita.
Meski pendampingan kerohanian dan pemantauan logistik berjalan lancar, pihak Klasis mengakui masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan, khususnya pemulihan psikologis anak-anak serta kebutuhan penanganan kesehatan lanjutan bagi warga.
“Mengingat proses pemulihan fisik dan psikis pascabencana ini diperkirakan memakan waktu lama, kami menegaskan komitmen untuk terus mengawal dan mendampingi para korban hingga situasi pulih sepenuhnya,” tandasnya.
Dirinya juga menyampaikan terimakasih kepada DPD PIKI Provinsi Maluku yang telah berbagi bersama para siswa SD Negeri Patahuwe.
“Dankje banya untuk para pengurus DPD PIKI Provinsi Maluku untuk hati melayani terutama bagi para siswa korban kebakaran. Terimakasih sudah datang untuk menyerahkan bantuan secara langsung. Tuhan Yesus memberkati pelayanan bapak ibu sekalian,” kuncinya. (MT-01)








