Imelda Pilih Tinggal Di Pengungsian, Utamakan Pemulihan Mental Siswa Pasca Kebakaran Patahuwe

by -21 Views

“Beta (saya) berasal dari kampung Holong, namun memilih untuk mengabdi di Patahuwe. Bahkan saat peristiwa terjadi, ikut mengungsi dan menetap di posko pengungsian. Beta memilih tinggal di sini karena tanggung jawab sebagai pemimpin untuk anak-anak ini,” ucap Waele.

Taniwel,moluccastimes.id-Musibah kebakaran yang melanda Desa Patahuwe, Kecamatan Taniwel Kabupaten Seram Bagian abrat (SBB) tidak hanya menghanguskan rumah warga, tetapi juga bangunan SD Negeri Patahuwe.

Meski begitu, semangat belajar tidak padam. Hal ini didukung keteguhan Kepala Sekolah, yang memilih tinggal bersama warga dan murid-muridnya di tengah pengungsian.

Dari total 61 siswa yang mengungsi di lokasi ini, semuanya adalah murid SD Negeri Patahuwe.

“Selain murid SD Negeri Patahuwe, ada juga beberapa sekolah seperti sekolah kampung Udu, Wakolo, dan Niani yang terdampak namun tidak berada di pengungsian ini,” ungkap Kepala Sekolah SD Patahuwe, Fonike Imelda Waele, S.Pd, Jumat 25/09/2026.

Wanita rendah hati ini mengaku telah tajuh tahun mengabdi di SD Negeri Patahuwe.

“Beta (saya) berasal dari kampung Holong, namun memilih untuk mengabdi di Patahuwe. Bahkan saat peristiwa terjadi, ikut mengungsi dan menetap di posko pengungsian. Beta memilih tinggal di sini karena tanggung jawab sebagai pemimpin untuk anak-anak ini,” ucap Waele.

Menurutnya kondisi mental anak-anak menjadi prioritas utama saat ini.

“Seluruh siswa yang akan ke sekolah diantar pada pukul 07-000 WIT dan dijemput pukul 11.00 WIT oleh pihak kepolisian yang bertugas disini. Walaupun dalam keadaan terpaksa namun semangat anak-anak untuk tetap sekolah sangat luar biasa,” papar ibu dua anak itu.

Sementara itu proses belajar mengajar berlangsung normal.

“Tetapi, kita belum mengajarkan pelajaran yang berat, masih dalam tahap mengembalikan rasa berani, memulihkan rasa takut serta memberikan kekuatan moril bagi siswa, paling tidak belajar membaca dan menulis secara pelan-pelan,” tandasnya.

Terkait pemulihan ketenangan (trauma healing), tambahnya, dilakukan melalui pendampingan rutin oleh pihak Kepolisian, termasuk Polwan, yang datang ke posko setiap saat.

“Dalam trauma healing mereka diajak untuk bermain untuk melupakan kenangan pahit dalam ingatan mereka. Dan anak-anak sangat antusias dengan aksi yang dilakukan pihak kepolisian, maupun pihak lain,” lugasnya.

Dirinya berharap,  trauma healing yang diberikan, anak-anak dapat menyusun kembali kehidupan mereka dengan fondasi kekuatan. Semoga dalam waktu kedepan, proses belajar bisa pulih perlahan, dan anak-anak tidak lagi merasa takut saat melangkah ke sekolah.

Coretan Harapan & Cita-Cita Generasi Emas Patahuwe Dari Tenda Pengungsian

Pemandangan sangat menyentuh hati ketika melihat berbagai tulisan tangan anak-anak di posko tempat mereka menerima trauma healing.

Coretan tangan-tangan kecil itu penuh makna dan harapan, agar mereka dapat kembali ke rumah mereka, ada yang menulis ingin kembali ke sekolah dengan aman.

Dalam kesempatan tersebut, moluccastimes sempat bercengkerama dengan para siswa. Dari bibir kecil mereka meneriakkan cita-cita.

” Saya ingin menjadi Polwan”. Ada juga yang ingin menjadi Bupati bahkan menjadi Gubernur. Wow, sangat luar biasa cita-cita serta imajinasi yang tertancap dalam pikiran dan sanubari.

Menjadi catatan penting, bahwa ditengah pergolakan drama yang tidak berperikemanusiaan itu, namun semangat mereka tetap menggelora meraih cita-cita dan harapan sebagai generasi emas Indonesia.

Tuhan memberkati serta memberikan kekuatan dalam setiap jerih lelah seluruh siswa menghadapi tantangan didepan. (MT-01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *