“Kami menyebut kegiatan ini sebagai ‘audit sampah’. Ini membantu kita memahami masalahnya dengan lebih jelas. Dari data ini, kami bisa menyusun program edukasi dan inisiatif masyarakat. Kita jadi tahu jenis plastik mana yang harus menjadi prioritas penanganan, karena itulah yang paling banyak ditemukan,” tambahnya.
Ambon,moluccastimes.id-Krisis penumpukan sampah plastik di pesisir Teluk Ambon, khususnya di kawasan hutan mangrove Desa Poka, membutuhkan penanganan berbasis data ilmiah.

Pembersihan secara fisik tidak akan pernah cukup tanpa adanya pemahaman mendalam mengenai jenis material yang mencemari lingkungan agar pencegahan dapat dilakukan langsung dari sumbernya.
Hal tersebut ditegaskan oleh Guru Besar bidang Ekotoksikologi dan Sains Lingkungan dari Faculty of Science and Engineering, Southern Cross University (SCU) Australia, Prof. Amanda Reichelt-Brushett sembari memimpin memimpin riset lapangan bersama delegasi mahasiswa SCU di Laboratorium FMIPA Unpatti, Kamis, 29/10/2026.
Dalam aksi tersebut, Prof. Amanda menjelaskan bahwa sampah residu yang dikumpulkan tidak langsung dibuang begitu saja, melainkan dipelajari secara mendalam kandungan bahannya.
Aktivitas ilmiah ini disebutnya sebagai metode “audit sampah”.

“Lalu apa yang akan kita lakukan dengan sisanya? Nanti akan dibawa ke tempat pengolahan sementara. Tapi saat ini, yang sedang kami lakukan adalah mempelajari jenis-jenis bahan yang ada di dalam sampah tersebut, termasuk plastik. Hal ini sangat membantu jika kita ingin mulai mengelola sampah jenis apa yang paling banyak, apakah botol plastik atau jenis lainnya, dan bagaimana cara terbaik untuk menanganinya,” ujar Prof. Amanda saat menjelaskan alur risetnya di lapangan.
Membangun Kesadaran Lewat Data
Menurut Prof. Amanda, data riil hasil audit di lapangan merupakan instrumen paling efektif untuk menyusun program intervensi, baik untuk edukasi publik maupun penentuan prioritas regulasi pemerintah.

“Kami menyebut kegiatan ini sebagai ‘audit sampah’. Ini membantu kita memahami masalahnya dengan lebih jelas. Dari data ini, kami bisa menyusun program edukasi dan inisiatif masyarakat. Kita jadi tahu jenis plastik mana yang harus menjadi prioritas penanganan, karena itulah yang paling banyak ditemukan,” tambahnya.
Ia juga berharap data yang dikumpulkan dari pesisir Poka ini bisa membuka mata publik mengenai kondisi riil perairan Maluku saat ini.
“Harapannya, masyarakat Ambon bisa melihat data ini sebagai bahan kesadaran lihatlah berapa banyak sampah yang ada di Teluk Ambon. Selain itu, ini juga menjadi pembelajaran bagi para mahasiswa, baik dari Australia maupun dari Indonesia metode cara melakukan audit sampah,” jelasnya.
Adopsi Sistem Pengelolaan Australia

Lebih lanjut, Prof. Amanda membagikan standar pengelolaan limbah di Australia yang rutin menggunakan metode audit serupa untuk meminimalkan beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Melalui data tersebut, pengelola TPA dapat menentukan karakteristik sampah guna dipilah menjadi produk daur ulang atau diolah menjadi kompos.
“Tujuannya agar tidak sekadar menumpuk sampah di TPA, tapi mulai mendaur ulang dan mengelola sesuai jenis bahannya apakah bisa didaur ulang, atau diolah menjadi kompos,” kata Prof. Amanda.

Menutup keterangannya, pakar sains lingkungan SCU ini kembali mengingatkan bahwa muara dari seluruh kegiatan riset dan akademik ini adalah perubahan kebijakan di tingkat hulu.
“Intinya, ini untuk keperluan pembelajaran metode, peningkatan kesadaran masyarakat, dan sebagai dasar pengambilan keputusan terutama untuk mengurangi sampah sejak dari sumbernya, bukan hanya membersihkannya setelah terbuang,” pungkasnya.
Dalam program kolaborasi internasional tahun 2026 ini, Prof. Amanda mendampingi langsung 14 mahasiswa SCU Australia yang turun ke pesisir Ambon.
Selain audit sampah, rangkaian agenda Prof. Amanda di Ambon meliputi Kuliah Umum lintas fakultas di Unpatti, menjadi pembicara kunci Konferensi Internasional Pascasarjana, hingga sosialisasi dini di SMP Negeri 2 Ambon.(MT-01)








