Air Mata Mahasiswa Australia Di Pantai Poka, Sentil Krisis Pengelolaan Sampah Dari Hulu Ke Hilir

by -2 Views

“Baru saja kita tanam mangrove, sudah ada sampah lagi. Kasihan ikan dan hewan-hewan di sini, mereka akan memakannya,” ucap mahasiswa asing tersebut dengan raut wajah sedih sembari memungut kembali sampah itu dan menimbun lubangnya dengan pasir.

Ambon,moluccastimes.id-Masalah penumpukan sampah di Kota Ambon tidak akan pernah selesai jika pemerintah hanya mengandalkan pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) berkapasitas besar.

 Kunci utama dari penuntasan krisis lingkungan ini terletak pada perubahan perilaku, pergeseran pola pikir masyarakat, serta komitmen nyata untuk mengurangi produksi sampah sejak dari hulu.

Pesan mendalam tersebut menjadi benang merah dari aksi nyata dari program kerja sama internasional antara Universitas Pattimura (Unpatti) dan Southern Cross University (SCU) Australia dalam kegiatan bersih pantai Poka dan penanaman Mangrove, Kamis 29/10/2026.

Guru Besar Bidang Kimia Anorganik FMIPA Unpatti, Prof. Dr. Yusthinus Thobias Male, S.Si., M.Si., mengungkapkan bahwa kolaborasi tahun ini dibuktikan lewat terjunnya 14 mahasiswa SCU ke lapangan.

“Mereka tidak hanya belajar budaya, tetapi melakukan riset mendalam terkait sampah di pesisir Pantai Desa Poka,” tandasnya.

Momen Emosional di Hutan Mangrove

Pada Kamis pagi itu, 14 mahasiswa SCU yang dipimpin oleh Guru Besar Ekotoksikologi dan Sains Lingkungan, Prof. Amanda Reichelt-Brushett, bahu-membahu bersama mahasiswa Unpatti membersihkan kawasan hutan mangrove Pantai Poka yang tertimbun plastik.

Di tengah aksi tersebut, sebuah momen emosional terekam ketika salah seorang mahasiswa SCU meneteskan air mata.

Ia mengaku sangat sedih melihat tumpukan botol mineral menjepit sisa-sisa tanaman mangrove yang masih hidup. Rasa mirisnya memuncak ketika melihat sampah plastik baru langsung berserakan di sekitar lokasi, sesaat setelah mereka selesai menanam anakan mangrove untuk menghidupkan kembali hutan yang mati.

“Baru saja kita tanam mangrove, sudah ada sampah lagi. Kasihan ikan dan hewan-hewan di sini, mereka akan memakannya,” ucap mahasiswa asing tersebut dengan raut wajah sedih sembari memungut kembali sampah itu dan menimbun lubangnya dengan pasir.

Peristiwa ini menjadi tamparan keras bahwa pengunjung dari luar negeri justru memperlihatkan kepedulian yang lebih emosional terhadap kebersihan tanah Maluku sementara kita yang punya pantai tidak memiliki rasa kepedulian. Cukup miris memang.

Inkonsistensi dan Tantangan dari Hulu ke Hilir

Prof. Male membeberkan bahwa pihak SCU sebenarnya telah menyuarakan keprihatinan sejak tahun 2019, terutama melihat lautan botol plastik sekali pakai yang selalu menumpuk setiap kali penerimaan mahasiswa baru, OSPEK, maupun KKN.

“Setiap tahun sama saja, sampah menumpuk. Bayangkan jika enam ribu mahasiswa baru masing-masing membuang satu botol plastik, berapa besar sampahnya?” tegas Prof. Male.

Dirinya menyoroti masalah inkonsistensi yang akut di lapangan.

“Banyak kampanye lingkungan yang hanya berhenti sebagai seremonial. Ironisnya, dalam beberapa peringatan Hari Lingkungan Hidup, pihak panitia dan birokrasi justru masih menyajikan air minum kemasan plastik sekali pakai,” timpalnya.

Solusi Jangka Panjang dan Edukasi Sejak Dini

Oleh karena itu, dirinya menghimbau para pimpinan baik perguruan tinggi dalam hal ini Rektor maupun pimpinan Dinas terkait berperan lead by example.

“Dibandingkan terus menghabiskan anggaran besar untuk membiayai pembersihan, jauh lebih efektif jika pimpinan membuat aturan tegas untuk mendisiplinkan masyarakat membawa wadah minum sendiri (tumbler),” tandasnya.

Dari hilir dibutuhkan komitmen multipihak, dimana pihak kampus terus berinovasi lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), misalnya menjadikan produk daur ulang mahasiswa sebagai suvenir yang dapat dijual serta wajib dibeli saat wisuda atau pesta resmi kampus.

Sementara Pemerintah Kota bertugas menjembatani pasar, dan masyarakat atau mitra usaha bertindak sebagai pembeli.

Dari sisi lain, dana retribusi tas plastik di ritel harus dialokasikan transparan sebagai dana abadi pengelolaan sampah.

“Karena selama ini masyarakat tidak paham pajak tersebut untuk apa peruntukannya. Pajak kantong plastik di swalayan harus dipikirkan untuk kembali mengelola sampah,” lugasnya.

Ditambahkan, untuk mengubah kebiasaan itu membutuhkan waktu lama, sehingga perlu terus dilakukan sosialisasi dan edukasi mulai dari pendidikan dini.

“Terkait hal tersebut, Prof Amanda Reichelt-Brushett juga menyempatkan diri memberikan sosialisasi bahaya plastik di SMP Negeri 2 Ambon, di samping agenda Kuliah Umum di Fakultas Sains dan Teknologi serta FKIP Unpatti, serta menjadi pembicara kunci dalam Konferensi Internasional Pascasarjana,” cetysnya.

Langkah edukasi ini membawa satu alarm penting: jika laut dan perairan Maluku rusak akibat sampah plastik, maka yang hilang bukan hanya keindahan, melainkan ikan dan hasil laut yang menjadi tumpuan hidup masyarakat.

“Mari kita belajar dari momen sederhana itu. Kalau tamu dari luar negeri saja bisa menangis karena lingkungan kita kotor, apalagi kita yang tinggal di sini. Mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang: simpan sampah di tempatnya,” pungkas Prof. Male.(MT-01)

 

 

 

..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *