Buka Sidang Jemaat GPM Kezia, Beresaby : Percakapkanlah Isu Krusial Yang Berdampak Langsung Pada Umat

by -26 Views

“Sebagai lembaga legislatif jemaat, Sidang Ke-26 Jemaat Kezia memegang mandat penting dalam menentukan keberlanjutan pelayanan gereja. Forum ini tidak hanya menilai laporan pertanggungjawaban program dan anggaran, tetapi juga mempercakapkan isu-isu krusial yang berdampak langsung pada kehidupan umat,” jelas pria smart itu.

Ambon,moluccastimes.id-Pelayanan gereja memiliki makna jika berakar pada ketergantungan penuh kepada Tuhan, bukan pada kekuatan organisasi semata.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Klasis Pulau Ambon, Pdt. W.A Beresaby saat membuka Sidang Ke-26 Jemaat GPM Kezia, Minggu 18/01/2026.

“Sidang Jemaat bukan kegiatan seremonial tahunan, tetapi ruang iman untuk menguji apakah gereja sungguh setia pada panggilan Allah dalam realitas hidup umat yang semakin kompleks,” ulas Beresaby.

Menurutnya, Sidang Jemaat menjadi forum strategis untuk mengevaluasi pelayanan tahun 2025 sekaligus menetapkan arah kebijakan, program kerja, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Gereja (APBG) Jemaat Kezia tahun 2026.

“Sebagai lembaga legislatif jemaat, Sidang Ke-26 Jemaat Kezia memegang mandat penting dalam menentukan keberlanjutan pelayanan gereja. Forum ini tidak hanya menilai laporan pertanggungjawaban program dan anggaran, tetapi juga mempercakapkan isu-isu krusial yang berdampak langsung pada kehidupan umat,” jelas pria smart itu.

Karena itu, Pdt. Beresaby mendorong peserta sidang untuk bersikap kritis, jujur, dan bertanggung jawab agar setiap keputusan yang dihasilkan benar-benar relevan dan berpihak pada kebutuhan jemaat.

Sejumlah hal ditekankan untuk menjadi bahan gumulan.

“Pelayanan terhadap anak dan generasi muda mendapat perhatian khusus sebagai investasi iman bagi masa depan gereja dan bangsa. Persoalan miras, narkoba, kekerasan, hingga pelecehan seksual terhadap anak dinilai sebagai krisis nyata yang membutuhkan respon gereja secara konkret. Penataan ulang pelayanan Sidi juga menjadi perhatian agar proses pendewasaan iman tidak berubah menjadi tekanan psikologis bagi anak-anak jemaat.Selain itu, pembangunan sumber daya manusia sebagai fokus utama pelayanan 2026. Disisi lain, Gereja diminta hadir secara aktif dalam pembinaan mental, spiritual, dan karakter umat di tengah tekanan sosial, ekonomi, dan derasnya arus digital,” jelasnya.

Dirinya juga menegaskan gereja tidak boleh terjebak dalam pola ritualistik yang stagnan namun Gereja dipanggil untuk bergerak menuju pelayanan yang memberdayakan umat dan berdampak langsung pada kualitas hidup jemaat.

“Pemberdayaan pelayan gereja juga dinilai mendesak agar gereja mampu menjawab tantangan zaman dengan pelayanan yang kontekstual, terbuka, dan transformatif,” lugas pria berkacamata itu.

Disisi lain isu lingkungan hidup turut menjadi perhatian serius Sidang Ke-26 Jemaat Kezia.

“Persoalan sampah dan kerusakan lingkungan dipandang sebagai bagian dari krisis kehidupan yang menuntut tanggung jawab iman gereja. Padahal lingkungan dapat disebut sebagai “rumah bersama” yang harus dirawat melalui aksi nyata, termasuk membangun kerja sama lintas iman sebagai bentuk kesaksian gereja di ruang publik,” cetusnya.

Sidang jemaat juga menekankan pentingnya kepemimpinan gereja yang komunikatif, pastoral, dan memulihkan.

“Gereja diharapkan menjadi ruang yang menghadirkan pengharapan, merawat kebersamaan, serta menyembuhkan luka-luka sosial umat,” tandasnya.

Selebihnya Beresaby mengajak seluruh peserta sidang memaknai Sidang Jemaat sebagai panggilan iman guna membangun gereja yang rendah hati, setia, dan mampu menyatakan kasih setia Allah secara nyata di tengah krisis kehidupan.(MT-01)

 

09 -6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *