“Mutu pendidikan kita di Maluku sampai sekarang masih berada pada posisi involutif, artinya tidak naik dan tidak turun. Kita selalu ada di peringkat kedua atau ketiga dari bawah, dan itu sudah terjadi sekian puluh tahun terakhir ini,” ungkap mantan Dekan FKIP tersebut.
Ambon,moluccastimes.id-Mutu pendidikan di Provinsi Maluku yang dinilai masih berada dalam posisi “involutif” atau jalan di tempat selama puluhan tahun terakhir, menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan setempat.
Menjawab persoalan tersebut, sebanyak 41 mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Universitas Pattimura (Unpatti) mengambil langkah nyata dengan memamerkan hasil inovasi mereka dalam acara Gelar Karya Kepemimpinan di pelataran gedung PPG Dekanat Lama FKIP Unpatti, Selasa 27/10/2026.

Pengelola sekaligus pengajar mata kuliah Proyek Kepemimpinan PPG Unpatti, Prof. Dr. Patrisius Rahabav, M.Si, secara blak-blakan menyoroti kondisi riil pendidikan di Maluku.
“Mutu pendidikan kita di Maluku sampai sekarang masih berada pada posisi involutif, artinya tidak naik dan tidak turun. Kita selalu ada di peringkat kedua atau ketiga dari bawah, dan itu sudah terjadi sekian puluh tahun terakhir ini,” ungkap mantan Dekan FKIP tersebut.
Menurut Rahabav, jalan keluar dari stagnasi ini adalah dengan melahirkan guru profesional yang memiliki moralitas baik, kreatif, inovatif, disiplin, dan bertanggung jawab.
Melalui program PPG ini, para mahasiswa diasah agar hal-hal teoritis yang didapat di bangku kuliah bisa langsung bersua dengan praktik nyata di sekolah-sekolah. Salah satu hasil konkret dari kreativitas mahasiswa ini adalah keberhasilan mereka menulis dua buah buku yang siap diterbitkan secara nasional.
Di tempat yang sama, Sekretaris PPG Unpatti, Dr. Samuel Patra Ritiauw, S.Pd., M.Pd memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh kepala sekolah dan guru pamong yang telah membantu membimbing para mahasiswa di lapangan.
Ia mengakui bahwa tantangan mengajar di wilayah provinsi kepulauan sangatlah berat karena keterbatasan fasilitas dan standar pendukung.
“Kita dihadapkan dengan standar-standar yang kurang memadai, mulai dari standar guru hingga fasilitas. Namun, karya-karya inovatif yang coba dikembangkan melalui literasi berpikir ini diharapkan menjadi bekal kuat bagi mahasiswa. Ketika mereka lulus, mereka bisa menampilkan yang terbaik dan membawa kemajuan bagi pendidikan di Maluku serta Indonesia secara keseluruhan,” tegas Ritiauw.
Gelar karya ini menjadi bukti bahwa di tengah keterbatasan sarana dan prasarana khas daerah kepulauan, keterbatasan tersebut bukanlah penghalang untuk melahirkan terobosan pembelajaran yang kreatif dan berdampak nyata bagi siswa.(MT-01)







