GESIT’, Inovasi Dosen Poltekkes Kemenkes Maluku Latih Kader Desa Latdalam (KKT) Perangi Stunting

by -7 Views

“Melalui peningkatan kapasitas ini, kader Posyandu Desa Latdalam kini siap menjadi garda terdepan yang mandiri dalam memantau tumbuh kembang anak secara berkala, guna menurunkan angka stunting secara nyata,” ungkap wanita smart ini dalam laporannya dalam Jurnal ABDINUS: Jurnal Pengabdian Nusantara (Volume 9, 2025).

Tanimbar,moluccastimes.id-Masalah pertumbuhan anak atau stunting masih menjadi tantangan kesehatan yang sangat serius di wilayah kepulauan Maluku. Berdasarkan data tahun 2022, prevalensi stunting di Provinsi Maluku menyentuh angka 26,1%, melebihi ambang batas aman yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 20%. Lebih memprihatinkan lagi, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) mencatat angka tertinggi kedua di provinsi ini, yaitu mencapai 31,5%.

Meresponi kondisi darurat tersebut, tim dosen dari Poltekkes Kemenkes Maluku menginisiasi program inovatif berbasis kemitraan lokal bertajuk Gerakan SWERI Stunting (GESIT).

Program pengabdian kepada masyarakat ini dipimpin oleh Jacomina A. Salakory bersama Hesty Wijayanti dari Program Studi Kebidanan, serta Deby Nur Fajni dari Program Studi Gizi, seperti yang diungkapkan kepada media ini, Rabu 24/06/2026.

Arti SWERI

Kata “SWERI” sendiri diangkat dari kearifan lokal bahasa daerah Bumi Duan Lolat yang berarti larangan atau pencegahan adat. Melalui filosofi ini, tim pengabdi bersama warga berkomitmen penuh untuk “melarang” dan menutup ruang bagi bertambahnya kasus anak kerdil di wilayah mereka.

Inovasi kolaborasi antara hukum adat Sweri dengan intervensi gizi modern dari akademisi ini diharapkan dapat menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Kepulauan Tanimbar. Dengan kader yang tangguh, target Tanimbar bebas stunting untuk menciptakan generasi masa depan yang sehat optimistis dapat segera terwujud.

Benahi Akar Masalah di Posyandu

Sebagai garda terdepan, para kader posyandu dibekali kemampuan teknis krusial, mulai dari akurasi pengukuran antropometri balita, deteksi dini gejala kekurangan gizi, hingga edukasi pemberian makanan tambahan (PMT) yang memaksimalkan nutrisi pangan lokal.

“Pelayanan kesehatan di pulau terpencil sering terkendala jarak. Oleh karena itu, kader lokal di Desa Latdalam harus mandiri dan cakap dalam memantau tumbuh kembang anak secara berkala,” ungkap salah satu tim pengabdi Poltekkes Kemenkes Maluku, Jacomina A. Salakory, dalam laporannya di Jurnal Abdinus.

Selain melatih kader, gerakan Gesit juga merangkul para ibu yang memiliki bayi dan balita lewat penyuluhan kesehatan terpadu. Respons masyarakat Desa Latdalam pun sangat positif, terlihat dari tingginya antusiasme kehadiran warga dalam setiap sesi edukasi gizi.

Sebelum program ini berjalan, tim peneliti menemukan fakta bahwa pemantauan status gizi balita di lapangan sering kali tidak akurat. Di Desa Latdalam, sebanyak 20 kader yang tersebar di 3 Posyandu belum memiliki keterampilan standar dalam menggunakan alat ukur antropometri, mengisi Kartu Menuju Sehat (KMS), hingga menginterpretasikan hasil pengukuran dengan benar.

Hambatan kompetensi ini membuat deteksi dini anak yang mengalami kurang gizi menjadi sulit dilakukan. Untuk mengatasinya, tim Poltekkes Kemenkes Maluku menggelar program terstruktur dalam tiga tahapan utama yaitu : sosialisasi dan praktik mandiri dilaksanakan
pada 02 hingga 04 Oktober 2024 di Kantor Desa Latdalam dengan agenda penyampaian materi stunting, pengenalan alat antropometri standar, praktik mandiri kader, dan simulasi alur pelayanan 5 meja.

Kemudian tahap pendampingan lapangan yang dilakukan tim dosen pada 10 Oktober 2024 dan 10 November 2024 saat kader melakukan pengukuran antropometri dan mengidentifikasi penyimpangan tumbuh kembang balita yang bertempat di 3 Posyandu di Desa Latdalam.

Keterampilan Kader Sangat Signifikan

Intervensi yang berjalan intensif ini membuahkan hasil yang sangat signifikan. Setelah mengikuti rangkaian pelatihan dan pendampingan, seluruh indikator keterampilan teknis dari 20 kader Posyandu di Desa Latdalam berhasil mencapai 100%.

Para kader kini dinilai telah cakap secara mandiri untuk mengukur tinggi dan berat badan anak, menilai status gizi, serta memberikan edukasi gizi seimbang kepada para ibu.

“Melalui peningkatan kapasitas ini, kader Posyandu Desa Latdalam kini siap menjadi garda terdepan yang mandiri dalam memantau tumbuh kembang anak secara berkala, guna menurunkan angka stunting secara nyata,” ungkap wanita smart ini dalam laporannya dalam Jurnal ABDINUS: Jurnal Pengabdian Nusantara (Volume 9, 2025).

Solusi dan Target Luaran

Sejumlah tantangan penanganan stunting serta langkah strategis yang diambil dalam program Gerakan SWERI Stunting (GESIT), diantaranya :
1. Tingginya angka stunting di Desa Latdalam. Langkah yang diambil adalah melaksanakan program edukasi intensif bagi kader posyandu mengenai stunting, faktor risiko, dan langkah pencegahannya secara holistik.
2. Rendahnya pengetahuan kader tentang antropometri dan interpretasi data. Langkah yang dilakukan memberikan edukasi teoretis mengenai standarisasi antropometri, cara pengisian KMS, dan cara menginterpretasikan hasil pengukuran balita.
3. Kader belum terampil menggunakan alat antropometri standar. Yang harus dilakukan adalah melaksanakan praktik langsung pengukuran antropometri (berat badan, tinggi/panjang badan, LILA, dan lingkar kepala) serta Simulasi dan standardisasi pelayanan sistem 5 meja di Posyandu.
4. Kurangnya pengawasan pasca-pelatihan di lapangan. Karena itu, harsu ada pendampingan berkala kepada kader saat pelaksanaan posyandu untuk memastikan akurasi pengukuran dan ketepatan identifikasi dini penyimpangan pertumbuhan.

Kesimpulan

Pelaksanaan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) melalui program Gerakan SWERI Stunting (GESIT) di Desa Latdalam, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, telah berhasil dilaksanakan secara efektif. Program ini berhasil memberikan solusi nyata terhadap rendahnya kapasitas teknis kader posyandu dalam mendeteksi dan mengintervensi kasus stunting di tingkat desa.

 

Berdasarkan hasil evaluasi sebelum dan sesudah pelaksanaan program, dapat disimpulkan beberapa poin utama sebagai berikut :

£. Peningkatan Kapasitas Kader yaitu Program pelatihan dan pendampingan terstruktur sukses mendongkrak rata-rata keterampilan teknis 20 kader posyandu di 3 posyandu Desa Latdalam secara signifikan dari 31,7% (kategori kurang) menjadi 100% (kategori baik).
£. Penguasaan Indikator Teknis: Seluruh kader sasaran kini telah menguasai 6 indikator utama posyandu dengan sempurna (100%), yang meliputi : kemampuan penggunaan alat ukur antropometri standar, penerapan teknik pengukuran yang benar, akurasi pencatatan data pada KMS, ketepatan interpretasi status gizi balita, kemampuan pemberian edukasi gizi seimbang, serta konsistensi pemantauan pertumbuhan berkala.
£. Kemandirian Sistem Posyandu yaitu melalui simulasi sistem 5 meja dan pendampingan lapangan yang intensif, posyandu di Desa Latdalam kini mampu beroperasi secara mandiri dan valid sebagai garda terdepan deteksi dini masalah malnutrisi pada balita.
£. Dampak Sosial Masyarakat dimana Gerakan GESIT berhasil mengintegrasikan nilai kearifan lokal (Sweri) dengan program kesehatan formal, sehingga mampu meningkatkan kesadaran kolektif orang tua dan perangkat desa dalam pemenuhan gizi 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Jadi, secara keseluruhan, Gerakan GESIT terbukti efektif dan layak dijadikan model percontohan intervensi stunting berbasis pemberdayaan masyarakat di wilayah pinggiran dan kepulauan. Kami berharap program ini dapat memberikan dampak jangka panjang dalam menurunkan prevalensi stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Kepulauan Tanimbar,” tutup Salakory.(MT-01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *