Mimpi Anak Buruh Lanjut Program Magister, Wakil Ketua MPR RI : Ini Tanggung Jawab Saya !

by -3 Views

“Saya ingin menyampaikan pesan khusus kepada Ananda Clarise Franciska Lalineka yang lulus hari ini dengan IPK sempurna. Kalau Ananda Clarise nanti mau melanjutkan ke S2, nanti saya akan perjuangkan dari Kartu Indonesia Pintar-nya untuk kuliah. Kalau KIP-nya tidak didapat, maka S2-nya akan menjadi tanggung jawab Wakil Ketua MPR RI,” ungkap Eddy Soeparno dengan nada bangga.

Ambon,moluccastimes.id-Perjalanan pendidikan seorang Clarise Franciska Lalineka, mahasiswa Fakultas Pertanian perlu menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya dibawah naungan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon.

Clarise Franciska Lalineka, S.P, berhasil menyelesaikan studi sarjana dalam waktu 3,5 tahun dengan capaian IPK sempurna.

Dari pengalaman tersebut Lalineka berhasil menarik perhatian Wakil Ketua MPR RI, Dr. Eddy Soeparno, S.H., M.H.yang memberikan kesempatan bagi nona manis ini melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2).

“Saya ingin menyampaikan pesan khusus kepada Ananda Clarise Franciska Lalineka yang lulus hari ini dengan IPK sempurna. Kalau Ananda Clarise nanti mau melanjutkan ke S2, nanti saya akan perjuangkan dari Kartu Indonesia Pintar-nya untuk kuliah. Kalau KIP-nya tidak didapat, maka S2-nya akan menjadi tanggung jawab Wakil Ketua MPR RI,” ungkap Eddy Soeparno dengan nada bangga disela wisuda Unpatti Kamis 23/04/2026.

Adalah suatu kebangaan bagi nona manis ini atas pernyataan tersebut yang membuat orangtua merasa terharu. Clarise Franciska Lalineka menjadi inspirasi bagi seluruh wisudawan yang hadir.

Anak Buruh Yang Luar Biasa

Diketahui Lalineka merupakan mahasiswa penerima KIP Kuliah Unpatti, dengan dukungan orangtua yang hanya seorang buruh namun dirinya berani membuktikan kesungguhan meraih impian sebagai sarjana pertanian.

“Awal kuliah saya sangat sulit membayar UKT sebesar 3 juta rupiah, sebelum pengumuman resmi penerimaan KIP Kuliah. Sempat menangis mengingat jumlah itu sangat besar sementara papa hanya buruh. Tapi dengan keyakinan papa dan mama serta keluarga mendorong saya dengan doa bahwa pasti ada jalan,” ucap Clarise dengan haru.

Iman orangtua ternyata membuahkan hasil, namanya tercatat sebagai penerima KIP Kuliah. Dengan mengandalkan beasiswa yang mencakup biaya pendidikan (UKT) serta bantuan biaya hidup sebesar Rp 5.700.000 per semester, Clarise memulai perjuangannya.

Hingga selesai studi dalam 7 semester, dirinya selalu bergantung pada doa. Disisi lain, nona manis ini tetap berupaya aktif mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan akademik dan organisasi. Keterlibatannya dalam sejumlah penelitian bersama dosen membawa dirinya dipercayakan sebagai Ketua Inkubator Bisnis Mahasiswa.

Di bawah kepemimpinannya, tim berhasil memperoleh pendanaan usaha sebesar Rp 50.000.000 dari program pemerintah.

Disisi lain, Clarise mengaku tidak pernah membayangkan akan mendapatkan kesempatan melanjutkan studi hingga jenjang magister.

“Keinginan untuk melanjutkan S2 memang ada, tetapi saya sadar kondisi ekonomi orang tua, sedangkan untuk menyelesaikan S1 saja saya harus berjuang dengan beasiswa,” lugasnya.

Walaupun demikian, nona manis ini memotivasi mahasiswa lainnya khususnya yang berasal dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah.

“Percaya pada diri sendiri, jangan mudah menyerah, dan terus berusaha. Dukungan orang tua dan doa juga sangat penting dalam setiap proses yang kita jalani,” pesannya.

Kisah Clarise menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi dan prestasi. Program KIP Kuliah yang dihadirkan pemerintah dinilai memberikan peluang besar bagi mahasiswa untuk berkembang, berprestasi, dan meraih masa depan yang lebih baik.(MT-01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *