“Beta (saya) tidak terburu-buru. Mengalir saja dengan apa yang ada saat ini. Tapi mimpi beta tetap besar suatu hari nanti ingin punya toko sendiri. Ingin tas-tas karya ini tidak hanya dikenal orang Ambon saja, tapi dikenal di seluruh penjuru Maluku, lalu ke luar pulau. Dan jika Tuhan berkenan, siapa tahu, Bastell Ambon bisa melangkah lebih jauh, dikenal hingga ke mancanegara,” ungkap Ruhukail penuh harapan
Ambon,moluccastimes.id-Tas untuk menampung perlengkapan kerja ataupun asesoris bagi sebagian orang hanya berfungsi sebagai wadah, namun bagi seorang Novita Ruhukail, tas merupakan caranya mengungkapkan identitas dirinya.

Banyak tas yang dijual di pasar diproduksi secara seragam, dan bagi dirinya secara pribadi, akan lebih nyaman jika apa yang dipakainya berbeda dari yang dimiliki orang lain.
Berangkat dari situlah, wanita smart itu terinspirasi menciptakan tas yang menurutnya berbeda dari yang dijual di pasaran, bahkan ketika menggunakannya, dirinya merasa nyaman, comfort, karena tidak akan sama dengan milik orang lain.

Dengan bahan dasar batik dan tenun khas Maluku, wanita yang kerap disapa Novi ini mulai mendesain satu karya yang menegaskan identitas dan ciri berbeda dari yang lain.
Selain sebagai pelengkap mode, hasil karyanya merupakan sarana untuk bercerita kepada khalayak luas inilah kehormatan Maluku yang melekat dalam setiap karya dengan bahan dasar batik tenun khas Maluku.
Bussines Matching, Rombak Idealisme

Namun, idealisme yang dimilikinya tidak cukup untuk menghidupkan sebuah usaha yang kini dikenal dengan Bastell Ambon.
Berbagai hal dialami mulai dari perjuangannya dalam ruang kelas yang menumbuhkan kepercayaan diri, diikuti dengan berbagai pendampingan, pelatihan, yang dilakukan oleh Bank Indonesia maupun dinas terkait seperti Diskop UKM Provinsi Maluku maupun balai latihan kerja.

Secara brutal, idealisme Ruhukail dirombak. Melalui pendampingan maupun pelatihan, dirinya belajar bagaimana manajemen keuangan yang sehat.
Awalnya wanita rendah hati ini belum terbiasa memisahkan uang pribadi dan uang usaha. Hal ini merupakan kendala klasik yang dihadapi hampir seluruh pelaku UMKM.
Usaha tas yang dikerjakannya berubah sejak ada program Business Matching yang digagas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Maluku.
Dalam Business Matching tersebut, dirinya baru menyadari bahwa ada pelajaran manajemen keuangan agar bisa “naik kelas” dari usaha rumahan menjadi bisnis yang bankable (memenuhi syarat perbankan).

Selain itu, dirinya juga berusaha meraih lagalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) serta sertifikat merek dagang yang harus dikantongi sebagai bukti bahwa usaha yang dijalani adalah resmi dan siap berkembang.
Bastell Ambon, kini merupakan satu dari sekian banyak UMKM perempuan di Kota Ambon dengan pengembangan usaha seiras dengan komitmen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dimana satu UMKM daerah mulai merapikan tata kelola finansialnya dan mengakar pada budaya lokal, negara hadir memberikan ruang bertumbuh yang aman.

Selain itu, lewat dorongan literasi keuangan di daerah dan kebijakan inovatif seperti Alternative Credit Scoring, pelaku usaha kreatif seperti Bastell Ambon tidak perlu lagi minder saat berhadapan dengan lembaga keuangan hanya karena keterbatasan agunan fisik.
Rekam jejak digital dan konsistensi usaha kini menjadi modal berharga yang diakui regulasi untuk membuka gerbang permodalan yang lebih luas.
Ruhukail mengakui langkah Bastell Ambon mengalir mengikuti proses, namun tetap merawat mimpi menuju pasar internasional.

“Beta (saya) tidak terburu-buru. Mengalir saja dengan apa yang ada saat ini. Tapi mimpi beta tetap besar suatu hari nanti ingin punya toko sendiri. Ingin tas-tas karya ini tidak hanya dikenal orang Ambon saja, tapi dikenal di seluruh penjuru Maluku, lalu ke luar pulau. Dan jika Tuhan berkenan, siapa tahu, Bastell Ambon bisa melangkah lebih jauh, dikenal hingga ke mancanegara,” ungkap Ruhukail penuh harapan seperti yang diceritakan kepada moluccastimes.id, Jumat, 30/10/2026.
Peran TPKAD Maluku
Sikap konsisten ini sejalan dengan visi besar pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan. Ketika regulasi yang inklusif dari OJK bertemu dengan ketekunan perajin lokal yang tak kenal patah arang, maka jalan bagi produk daerah untuk naik kelas bukan lagi sekadar angan-angan.

Hal ini juga sejalan dengan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) dan Rapat Pleno TPAKD Provinsi Maluku yang digelar Rapat Koordinasi Daerah dan Rapat Pleno TPAKD se-Provinsi Malukudi Kantor OJK Maluku, Selasa 07/07/2026.
Strategi keuangan inklusif kembali dipertegas yaitu menggerakkan ekonomi langsung dari akar rumput.
Kepala Biro Perekonomian Setda Maluku,Onesimus Soumeru, S.Sos., S.Pd., M.Si menyebutkan bahwa TPAKD sudah pasang target konkret sampai akhir tahun ini.

Fokus utamanya adalah memperluas jaringan ekonomi lewat empat agenda Business Matching terintegrasi yang harus rampung pada Triwulan IV Tahun 2026. Sinergi di lapangan ini sebetulnya sudah mulai kelihatan hasilnya sejak April lalu, lewat kolaborasi bareng PT Permodalan Nasional Madani (PNM).
Bukan cuma itu, keran modal juga diperlebar lewat skema Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kalau melihat data dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Maluku periode Januari-Mei 2026, penyaluran KUR terus dikebut. Targetnya tidak main-main, ada 3.000 debitur baru yang dibidik sampai akhir Triwulan IV nanti.
Adapun program kerja TPAKD Provinsi Maluku yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut :
1. Pengembangan Ekonomi Daerah Pelaksanaan kegiatan Business Matching bagi pelaku usaha, termasuk UMKM perempuan di Provinsi Maluku, dengan target empat kegiatan pada Triwulan IV Tahun 2026. Hingga saat ini telah dilaksanakan satu kegiatan Business Matching bagi pelaku UMKM di Kabupaten Maluku Tengah bekerja sama dengan PT Permodalan Nasional Madani pada 17 April 2026.

2. Perluasan Akses Keuangan Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan target 3.000 debitur pada Triwulan IV Tahun 2026. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Maluku periode Januari–Mei 2026, realisasi penyaluran KUR mencapai Rp528,92 miliar kepada 10.017 debitur.
Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) dengan target pembukaan 5.000 rekening pada Triwulan IV Tahun 2026. Berdasarkan data posisi Maret 2026, jumlah rekening KEJAR telah mencapai 95.822 rekening dengan total saldo sebesar Rp28,45 miliar.
3. Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan :
£. Program Edukasi Keuangan Syariah dengan target dua kegiatan edukasi pada Tahun 2026. Hingga Juni 2026 telah terlaksana 34
£. Kegiatan yang menjangkau 4.434 peserta
£. Program Training of Trainers (ToT) bagi guru di Provinsi Maluku dengan target satu kegiatan pada Tahun 2026. Program ini dijadwalkan berlangsung pada 30 Juni 2026 bagi guru SMP dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) se-Kota Ambon melalui program OJK PEDULI.
£. Pelaksanaan Bulan Inklusi Keuangan pada Triwulan IV Tahun 2026.
4. Peningkatan Digitalisasi Keuangan
Peningkatan jumlah merchant QRIS dengan target 1.200 merchant pada Triwulan IV Tahun 2026. Hingga Mei 2026, jumlah merchant QRIS di Provinsi Maluku telah mencapai 10.637 merchant.
“Program kerja TPAKD Provinsi Maluku tersebut diharapkan menjadi acuan bagi TPAKD kabupaten/kota di seluruh wilayah Maluku dengan tetap menyesuaikan karakteristik, kebutuhan, dan potensi masing-masing daerah, sehingga upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan,” harap Soumeru
Langkah taktis OJK dan TPAKD Maluku di tahun 2026 ini bukan lagi sekadar kejar target di atas kertas, tapi sebuah bukti kesejahteraan di Bumi Raja-Raja bisa tumbuh mandiri di kaki sendiri terutama bagi para perempuan pelaku UMKM.(MT-01)















