“AMGPM tidak cukup hanya menjadi organisasi yang aktif dengan aneka kegiatan. Pertanyaan mendasarnya adalah apa yang sungguh-sungguh berubah dalam kehidupan orang muda, keluarga, gereja, dan masyarakat melalui pelayanan AMGPM?” ujar pria smart itu.
OhoiOhoira,moluccastimes.id-Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) XXXVII Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) resmi dibuka oleh Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM, Pdt. S.I. Sapulette, M.Si bertempat di Gereja Sumber Kasih, Jemaat GPM Ohoira, Kabupaten Maluku Tenggara, ditandai dengan penekanan tombol yang diiringi sirine ini menandai dimulainya persidangan yang dihadiri perwakilan dari 34 klasis, Minggu, 18/10/2026.

Momentum tahunan ini ditegaskan bukan sekadar seremonial konstitusi organisasi, melainkan ruang evaluasi jujur untuk menguji visi “Menjadi AMGPM yang Berakar pada Injil dan Berbuah Bagi Dunia” yang berlandaskan teologi Yohanes 15:5.
Dalam arahannya, Sapulette menekankan bahwa barometer keberhasilan AMGPM terletak pada dampak konkret kehadirannya di tengah masyarakat, bukan pada kemegahan struktur atau kecanggihan sistem digital.
“AMGPM tidak cukup hanya menjadi organisasi yang aktif dengan aneka kegiatan. Pertanyaan mendasarnya adalah apa yang sungguh-sungguh berubah dalam kehidupan orang muda, keluarga, gereja, dan masyarakat melalui pelayanan AMGPM?” ujar pria smart itu.

Disisi lain, pria rendah hati itu menyoroti tiga poin utama yang penting dalam pelayanan yaitu :
Penyelarasan Arah Pelayanan dan Empat Dimensi Kasih
Arah pelayanan AMGPM kedepan menurutnya diselaraskan dengan Tema Pelayanan GPM 2026-2030: “Anugerah Allah Melengkapi dan Meneguhkan Gereja Menuju Satu Abad GPM”, serta Sub Tema Pelayanan 2027: “Hadirkanlah Kasih Kristus dalam Keluarga dan Masyarakat”.
Sementara untuk menjawab realitas zaman, kader diwajibkan menghidupi empat dimensi kasih Kristus :

• Kasih yang Menghampiri: Proaktif menjangkau orang muda di ruang persoalan nyata mereka.
• Kasih yang Mengosongkan Diri (Kenosis): Kepemimpinan pemuda yang berlandaskan kerendahan hati dan bebas dari perebutan kekuasaan (Filipi 2:5-8).
• Kasih yang Membebaskan: Menjadi jawaban bagi pemuda yang terbelenggu kemiskinan, pengangguran, narkoba, hingga judi online.
• Kasih yang Menyejahterakan: Menyeimbangkan pertumbuhan spiritualitas dengan pemenuhan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan kader.
Fokus Pembenahan Krisis Keluarga (Ecclesia Domestica)
“Kami juga mengingatkan agar kader tidak kehilangan kepekaan terhadap situasi domestik sendiri akibat terlalu aktif berorganisasi. Di tengah tantangan era digital dan tekanan ekonomi, keluarga harus ditempatkan sebagai ruang pelayanan strategis agar pemuda Kristen mampu membawa dampak perubahan positif mulai dari rumah,” tandasnya.

Apresiasi Kinerja Pengurus Besar
Disisi lain, Sapulette mengapresiasi Pengurus Besar (PB) AMGPM yang dinilai tekun dan berhasil mengawal program strategis sepanjang tahun 2026 di tengah keterbatasan finansial dan tantangan geografis kepulauan.
“Beberapa capaian yang kami apresiasi meliputi pendidikan kader, digitalisasi sistem informasi, pekabaran Injil berbasis budaya, hingga pengembangan jejaring ekonomi,” lugasnya.
Menutup arahannya, Sapulette berharap MPP XXXVII ini melahirkan konsolidasi kuat yang murni berbasis pada relevansi dan dampak nyata bagi kemandirian serta pertumbuhan kualitas spiritual seluruh kader. (MT-01)









