Wamenkeu Tekankan Pentingnya Sinergi Fiskal-Moneter Jaga Stabilitas Makro

by -31 Views

“Dalam menghadapi trilema kebijakan antara stabilitas nilai tukar, mobilitas arus modal, dan independensi kebijakan moneter, kebijakan moneter tidak dapat bekerja sendiri, melainkan perlu didukung oleh kebijakan fiskal, makroprudensial, serta pengelolaan likuiditas yang saling melengkapi,” papar Juda.

Bali,moluccastimes.id-Ketidakpastian global yang semakin kompleks menuntut penguatan koordinasi kebijakan.

Demikian Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, dalam Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-20 dan Call for Papers, di Bali, Jumat 31/07/2026.

“Dalam menghadapi trilema kebijakan antara stabilitas nilai tukar, mobilitas arus modal, dan independensi kebijakan moneter, kebijakan moneter tidak dapat bekerja sendiri, melainkan perlu didukung oleh kebijakan fiskal, makroprudensial, serta pengelolaan likuiditas yang saling melengkapi,” papar Juda.

Menurutnya, koordinasi yang kuat antarlembaga menjadi kunci untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

Disisi lain, sejumlah isu strategis turut mengemuka dalam konferensi ini. Pada aspek fragmentasi geoekonomi, para akademisi menyoroti meningkatnya peran guncangan global terhadap kebijakan moneter, perdagangan, dan investasi, yang menuntut penguatan koordinasi kebijakan, pemanfaatan analisis berbasis skenario (scenario analysis), serta kerja sama internasional untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung ketahanan investasi.

Di bidang transformasi digital, diskusi mengulas pesatnya perkembangan digitalisasi, kecerdasan artifisial (AI), dan inovasi keuangan yang mengubah sistem pembayaran, uang, dan pasar keuangan.

Para pembicara juga membahas berbagai model uang digital, termasuk stablecoins, tokenized deposits, dan wholesale central bank digital currencies (CBDC), serta pentingnya membangun ekosistem keuangan digital yang lebih efisien, saling terhubung (interoperable), dan tangguh (resilient) di masa depan.

Konferensi internasional BMEB dihadiri oleh peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, dan lembaga internasional. Forum ini menjadi momentum bagi akademisi dan pembuat kebijakan dari berbagai negara berbagi pemikiran dan pengalaman untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih tepat dalam menghadapi tantangan ekonomi global.

Partisipasi pada Call for Papers BMEB tahun ini mampu menghimpun 354 naskah lengkap dari 34 negara. Melalui forum ini, Bank Indonesia terus memperkuat kolaborasi antara akademisi dan pembuat kebijakan guna menghasilkan riset yang relevan bagi perumusan kebijakan berbasis bukti di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global.(MT-01)