Inovasi Berbasis AI, Unpatti Rancang Arsip Digital Berdaulat Untuk Musik Maluku

by -10 Views
Warek Bidang Akademik Unpatti, Prof. Dr. Dominggus Malle, S.Pt., M.Sc

“AI dapat membantu kita mengorganisasi, mengolah, menemukan kembali, dan menghubungkan berbagai data budaya. Namun, teknologi tersebut harus tetap berpijak pada konteks budaya, etika, hak komunitas, kepemilikan pengetahuan, serta tata kelola data yang bertanggung jawab,” jelas Malle.

Ambon,moluccastimes.id-Universitas Pattimura (Unpatti) resmi memulai rangkaian program “Diaspora Berdampak” yang berlangsung dari tanggal 3 hingga 17 Oktober 2026.

Sebagai langkah awal, Unpatti menggelar Kuliah Umum Internasional dan Knowledge Sharing Diaspora bertajuk “Maluku Musical Heritage Intelligence Initiative: Developing a Sovereign Digital Archive and AI-Ready Cultural Heritage Ecosystem to Support Ambon City of Music” di Aula Rektorat Unpatti, Selasa 06/10/2026.

Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas kondisi dokumentasi budaya Maluku saat ini yang masih tersebar dan berisiko tergerus zaman. Melalui pembentukan Sovereign Digital Archive (arsip digital berdaulat), Unpatti berkomitmen mengintegrasikan data budaya secara terpercaya, sekaligus memastikan masyarakat Maluku tetap menjadi subjek dan pemilik pengetahuan, bukan sekadar objek teknologi.

Wakil Rektor Bidang Akademik Unpatti, Prof. Dr. Dominggus Malle, S.Pt., M.Sc., menegaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) harus tetap berpijak pada konteks lokal.

“AI dapat membantu kita mengorganisasi, mengolah, menemukan kembali, dan menghubungkan berbagai data budaya. Namun, teknologi tersebut harus tetap berpijak pada konteks budaya, etika, hak komunitas, kepemilikan pengetahuan, serta tata kelola data yang bertanggung jawab,” jelas Malle.

Upaya ini mendapat dukungan penuh dari Duta Besar RI untuk RRT dan Mongolia, Djauhari Oratmangun. Ia melihat peluang besar dari eratnya hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok dalam bidang digitalisasi untuk membawa karya seni lokal ke tingkat global.

Kendati demikian, ia mengingatkan pentingnya aspek hak cipta dan sentuhan kemanusiaan dalam berkreasi. Mengutip pandangan pengusaha Jack Ma, Djauhari menekankan bahwa AI tidak memiliki perasaan, berbeda dengan manusia yang memiliki rasa dan rasio.

“Gunakan kecerdasan mesin untuk proses, pertahankan rasa manusia untuk kreativitas. Manfaatkan rasa berseni dan rasio kita untuk menghasilkan karya berkelas dunia dengan memanfaatkan teknologi informasi,” ujar Djauhari.

Forum yang dipandu oleh Prof. Wilma Latuny, Ph.D. (penerima Hibah Diaspora Berdampak Diktisaintek Batch I) ini juga menghadirkan Dennis Tedja, Founder Opus Solutions Limited & Global Ambassador for Indonesia, Hong Kong Cyberport, sebagai narasumber.

Peran diaspora Maluku dinilai sangat strategis sebagai jembatan pengetahuan dan jejaring global demi memperkuat status Ambon sebagai City of Music.

Kuliah umum ini menjadi titik awal dari program jangka panjang Unpatti yang akan mencakup lokakarya, kunjungan lapangan, Focus Group Discussion (FGD), penyusunan peta jalan (roadmap), penetapan blueprint, hingga pembentukan kelompok kerja (working group) demi mewujudkan ekosistem digital warisan budaya Maluku yang berkelanjutan.(MT-01)

 

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *