Melalui integrasi kurikulum vokasi baru ini, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya bertindak sebagai produsen produk kesehatan di kancah global, tetapi juga memiliki fondasi pengawasan domestik yang kokoh dan berdaya saing tinggi.
Jakarta,moluccastimes.id-Cetak biru industri kesehatan masa depan Indonesia kini tidak hanya fokus pada penciptaan produk, melainkan pada kesiapan lini pertahanan pengawasannya. Menanggapi pesatnya pertumbuhan industri farmasi, kosmetik, hingga bioteknologi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) resmi menginisiasi pembentukan Program Vokasi Pengawasan Obat dan Makanan.
Langkah strategis untuk mencetak SDM dengan spesifikasi keahlian khusus ini dimatangkan dalam pertemuan antara Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, dan Mendiktisaintek, Brian Yuliarto, di Jakarta, Kamis 05/11/2026.
Menteri Brian bahkan menyatakan komitmennya untuk ikut meluncurkan langsung program pendidikan terapan tersebut.
Memutus Kelangkaan Ahli Mutu Finansial dan Medis
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa kemandirian sektor kesehatan tidak bisa hanya bertumpu pada kecanggihan teknologi pabrik atau ketersediaan laboratorium. Jantung dari jaminan kesehatan publik terletak pada ketersediaan tenaga terampil yang mampu mengendalikan risiko produk sejak dari hulu.
“Indonesia membutuhkan tenaga profesional yang memiliki kompetensi spesifik, memahami standar keamanan produk, serta mampu menjawab tantangan industri kesehatan yang terus berkembang,” ungkap Taruna.
Lulusan dari program vokasi baru ini diproyeksikan langsung mengisi pos-pos krusial di industri dan lembaga regulator untuk menangani :
• Standardisasi Mutu: Memastikan bahan baku lokal memenuhi syarat aman sebelum diproduksi massal.
• Pengujian Laboratorium: Melakukan skrining ketat terhadap ancaman kontaminasi zat berbahaya pada obat tradisional dan suplemen.
• Manajemen Risiko Produk: Mengawasi rantai distribusi produk bioteknologi dan kosmetik yang kian kompleks.
Menjaga Benteng Keamanan di Tengah Arus Hilirisasi
Urgensi kehadiran program vokasi ini kian nyata seiring digenjotnya program hilirisasi komoditas lokal, salah satunya adalah pemanfaatan tanaman kratom (Mitragyna speciosa) menjadi bahan baku farmasi oleh ITB dan PT Indofarma (Persero) Tbk.
Meskipun hilirisasi kratom menjanjikan nilai ekonomi yang besar berkaca pada nilai ekspornya yang menembus USD 27,13 juta pada 2022 BPOM mengingatkan bahwa pembuktian ilmiah dan pengawasan ketat harus menjadi panglima utama. Potensi keuntungan komersial tidak boleh mengorbankan keselamatan masyarakat.
Melalui integrasi kurikulum vokasi baru ini, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya bertindak sebagai produsen produk kesehatan di kancah global, tetapi juga memiliki fondasi pengawasan domestik yang kokoh dan berdaya saing tinggi.(MT-01)





